Di dalam masyarakat penyakit dispepsia sering disamakan dengan penyakit maag, dikarenakan terdapat kesamaan gejala antara keduanya. Hal ini sebenarnya kurang tepat, karena kata maag berasal dari bahasa Belanda, yang berarti lambung, sedangkan kata dispepsia berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata yaitu “dys” yang berarti buruk dan “peptei “ yang berarti pencernaan, jadi dispepsia berarti pencernaan yang buruk.

Pengertian dispepsia adalah sekumpulan gejala berupa nyeri, perasaan tidak enak pada perut bagian atas yang menetap atau berulang disertai dengan gejala lainnya seperti rasa penuh saat makan, cepat kenyang, kembung, bersendawa, nafsu makan menurun, mual, muntah, dan dada terasa panas yang telah berlangsung sejak 3 bulan terakhir, dengan awal mula gejala timbul dalam 6 bulan sebelumnya. Gejala – gejala tersebut dapat disebabkan oleh berbagai penyakit, tentunya termasuk juga di dalamnya penyakit maag, namun penyebabnya tidak harus selalu oleh penyakit maag, oleh karena itu dalam medis untuk menggambarkan sekumpulan gejala tersebut digunakanlah istilah sindrom dispepsia.

Masyarakat sekarang sudah pintar dalam mengenali penyakit sindrom dispepsi, dan banyaknya obat-obatan dipasaran yang dijual bebas dan dapat dibeli masyarakat tanpa resep dokter. Karena pada sindrom dispepsi ini adalah penyakit yang sehari-hari kita temukan dan banyak diderita oleh masyarakat terutama dimasyarakat yang tinggal dikota besar. Hal itu berhubungan erat dengan pola makan masyarakat zaman sekarang dan pola kebiasaan masyarakat zaman sekarang yang cenderung memiliki kebiasaan pola makan yang tidak teratur atau makan melewati jam waktu makan yang seharusnya akibat kepadatan akitifitas, kebiasaan minum kopi diawal hari sebelum melakukan kegiatan yang dilakukan laki-laki ataupun perempuan pada zaman sekarang, tingkat stress yang tinggi juga memicu peningkatan penderita sindrom dispepsi.

Pada dasarnya penyakit ini tidak membahayakan hanya saja mengganggu aktifitas dan nafsu makan yang dapat menurun bila berkepanjangan berakibat buruk juga bagi penderitanya. Disisi lain sindrom dispepsi juga bisa dikatakan sebagai gejala awal terjadinya penyakit kronis disaluran pencernaan anda seperti tukak lambung, kaker usus, gangguan empedu ataupun hati. Menurut penelitian sindrom dispepsi lebih banyak diderita oleh perempuan dibandingkan laki-laki, hal tersebut berhubungan dengan tingkat stress perempuan yang lebih tinggi dibanding laki-laki, disisi lain stigma perempuan yang gendut terlihat jelek berakibat pola makan diet yang tidak benar dimasyarakat berakibat perempuan lebih sering terkena sindrom dispepsi.

Pengobatan sindrom dispepsi bisa dalam bentuk obat yang biasanya dijual bebas untuk penanganan awal bila tidak tertangani anda bisa konsultasi dengan dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Namun yang ingin saya bahas kali ini adalah bila penderita sindrom dispepsi yang sudah sembuh dapat kambuh kembali dalam jangka waktu dekat bila tidak merubah pola makan dan pola hidupnya. Untuk itu panderita harus konsisten melakukan beberapa hal untuk pencegahan sindrom dispepsi berulang. Hal pertama membiasakan pola makan yang teratur sehari tiga kali dengan porsi makan terdiri dari kabohidrat, sayur dan protein dengan porsi kecil dengan durasi setiap 8 jam dengan antara makan pagi dan siang diselingi cemilan begitu pula antara makan siang dan sore.

Membiasakan tidak makan diatas jam 8 malam. Sebab diatas jam 8 malam otot usus besar sudah berhenti menggiling makanan karena sifat otot usus besar bersifat otonom dimana bergerak tanpa bisa diatur. Sehingga berefek makanan akan terendap dilambung hingga pagi, hal ini merangsang enzim-enzim disaluran pencernaan untuk mengeluarkan asam lambung terus-menerus yang berakibat berlebihannya produksi asam lambung dipagi hari yang memicu terjadinya sindrom dispepsi. Membiasakan minum air putih setelah bangun tidur sebanyak kurang lebih 200cc untuk menetralkan PH asam lambung yang terproduksi selama anda tidur.

Bila anda memiliki sindrom dipepsi dalam jangka pada saat tidur posisi kepala lebih tinggi sedikit dibanding perut untuk menghindari asam lambung yang naik ke saluran pencernaan atas pada saat tidur. Hindari meminum kopi dan teh ataupun minuman yang mengandung kafein, karena kafein merangsang enzim-enzim mengeluarkan asam lebih banyak. Membatasi makanan yang asam dan pedas, pada saat proses penyembuhan sebaiknya mengurangi makanan yang mengandung santan dan susu terutama sebelum tidur karena itu sulit dioleh. Membiasakan tidur yang cukup dan tidak tidur dilarut malam, karena kebiasaan tidur larut malam memicu kebiasaan minum kopi yang nantinya merangsang produksi asam lambung. Dan luangkan waktu untuk beristirahat disela-sela kesibukan anda, untuk mengurangi stress karena stress factor terbesar terjadinya penyakit sindrom dispepsi. Bila anda menjalankan tips-tips yang tadi sudah dijelaskan resiko terjadinya sindrom dispepsi berulang kembali