Memasuki usia dewasa muda kita akan mengalami pertumbuhan gigi geraham bungsu, atau dalam istilah kedokteran dikenal dengan molar ketiga. Gigi geraham ini merupakan gigi yang  tumbuh pada posisi paling belakang dan terakhir dalam proses tumbuhnya, sehingga biasa dikenal dengan istilah gigi geraham bungsu. Pada sebagian orang proses pertumbuhan gigi ini seringkali diikuti beberapa masalah yang cukup mengganggu.

Bagi anda yang sering mengeluhkan kondisi sakit kepala sampai dengan tengkuk atau pundak, demam, sakit gigi, bau mulut, nyeri pada gusi karena tergigit oleh gigi atasnya, susah buka mulut karena bengkak dan nyeri, mungkin perlu memeriksakan kondisi rongga mulut khususnya pada pertumbuhan gigi geraham bungsu anda.

Gambar 1. Posisi gigi geraham bungsu yang tidak dapat tumbuh secara normal

Gambar 2. Gejala yang ditimbulkan impaksi gigi geraham bungsu

Masalah yang biasa terjadi pada pertumbuhan gigi geraham bungsu adalah, pada saat muncul, hanya ada sedikit ruang yang tersisa bagi gigi ini untuk dapat tumbuh secara normal. Dengan demikian, gigi geraham bungsu dapat muncul sebagian atau tidak sama sekali, mengakibatkan kondisi yang disebut impaksi gigi geraham bungsu. Impaksi merupakan suatu kondisi gigi yang terhalang proses tumbuhnya sehingga tidak dapat tumbuh secara sempurna.

Impaksi memang dapat terjadi pada gigi manapun, namun gigi geraham bungsu paling sering terjadi impaksi. Karena gigi geraham bungsu merupakan rangkaian gigi yang terakhir tumbuh di antara bagian gigi yang lain, tidak jarang tumbuhnya gigi geraham bungsu bisa terasa begitu sakit. Hal ini terjadi karena untuk tumbuh, gigi geraham bungsu perlu merobek bagian gusi. Belum lagi potensi masalah arah tumbuh gigi geraham bungsu yang dapat menimbulkan kerusakan.

Hingga saat ini para ahli masih memperdebatkan penyebab gigi impaksi. Impaksi pada gigi geraham bungsu bisa disebabkan oleh kemungkinan rahang yang terlalu kecil untuk menampung gigi geraham bungsu yang mengakibatkan gigi ini gagal tumbuh dengan sempurna. Biasanya gigi geraham bungsu ini tumbuh pada usia 16 – 25 tahun. Kemudian ada juga yang menganggap penyebab impaksi pada gigi disebabkan oleh kebiasaan makan masyarakat modern yang hanya makan makanan yang cenderung lunak saja dan kebiasaan mengunyah yang kurang baik, seperti mengunyah kurang dari 30 kali dalam satu suapan.

Impaksi gigi geraham bungsu dapat mengakibatkan berbagai gejala, seperti bau mulut, nyeri, peradangan, perdarahan gusi, kesulitan membuka mulut, infeksi hingga pembengkakan dan berpotensi memicu terbentuknya kista. Gejala-gejala ini bisa datang dan pergi, tetapi tidak akan pernah terselesaikan sampai masalahnya diperbaiki. Bahkan, gejala bisa lebih buruk jika timbul komplikasi.

Komplikasi yang paling umum dari impaksi gigi geraham bungsu adalah akan merusak gigi disampingnya. Saat gigi geraham bungsu muncul, hal itu akan memberikan tekanan pada gigi disekitarnya, sehingga rentan terhadap kerusakan. Selain itu, gigi yang hanya tumbuh sebagian dengan kondisi gigi yang sebagian tertutup gusi, sehingga akan sangat berpotensi untuk terjebaknya sisa makanan didalam kantong gusi tersebut. Terjebaknya sisa makanan ini dapat memicu infeksi dan keradangan pada gusi, dan jika tidak mendapat penanganan yang tepat dapat mengakibatkan kondisi medis yang serius.

Gambar 3. Pembengkakan akibat komplikasi impaksi gigi geraham bungsu

Jika Anda mengalami masalah dengan gigi, terutama gigi geraham bungsu, sebaiknya anda segera berkonsultasi dengan dokter gigi. Masalah yang ditimbulkan gigi geraham bungsu dapat dengan mudah diidentifikasi pada saat pemeriksaan. Identifikasi awal dapat mencegah terjadinya berbagai permasalahan yang dapat ditimbulkan oleh gigi impaksi. Dengan pemeriksaan rutin 6 bulan sekali, pertumbuhan gigi geraham bungsu dapat termonitor dengan baik sehingga mendapat penanganan yang tepat sebelum munculnya gejala.

Dokter gigi akan memeriksa kondisi gigi geraham bungsu anda secara langsung dan jika diperlukan biasanya dokter gigi akan menyarankan untuk dilakukan pemeriksaan penunjang seperti rontgen gigi. Hasil pemeriksaan dan rontgen gigi ini akan membantu dokter gigi untuk menentukan kondisi gigi geraham bungsu dan kemungkinan kerusakan yang terjadi. Dokter gigi akan merekomendasikan tindakan selanjutnya berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut.

Kondisi gigi geraham bungsu yang berpotensi menyebabkan kerusakan namun belum menampakkan gejala masih dapat ditunda untuk dilakukan tindakan pencabutan, tetapi tetap disarankan dilakukan tidakan demi mencegah komplikasi yang dapat terjadi. Sedangkan kondisi gigi geraham bungsu yang sudah menyebabkan kerusakan  direkomendasikan segera dilakukan pencabutan untuk mencegah komplikasi yang lebih berat. Beberapa kondisi gigi geraham bungsu memerlukan tindakan pencabutan dengan pembedahan kecil.